Kamis, 04 Juni 2009

film INdonesia

Film Indonesia Menang di Polandia

Rabu, 20 Mei 2009 07:07 WIB Hiburan Film/TV Dibaca 1409 kali

London (ANTARA News) - Film Indonesia karya Haryo Sentanu Murti berjudul "Cerita dan Cita Rehabilitasi Berbasis Masyarakat" berada di peringkat pertama dari 18 film peserta festival kategori "Award of Distinction" dalam Festival Film dan Multimedia Katolik ke-24 di Niepokalanow, Polandia.Juru bicara KBRI Warsawa Any Muryani kepada koresponden ANTARA London, Rabu, mengatakan pengumuman itu disampaikan dewan juri setelah menilai keunggulan film yang diproduksi Studio Audio Visual Puskat dari kota Yogyakarta tersebut.Film itu menceritakan tentang semangat solidaritas dari gereja Katholik untuk kaum miskin dan yang tertindas.
Menurut Any Muryani, lebih dari 179 film, 47 program radio, 35 program multimedia dari 21 negara, menjadi peserta festival tersebut. "Persaingan berlangsung ketat", ujar Ketua Juri Jan Szafraniec, Rektor Bogdan Janski College. Selama tiga hari dari kegiatan festival, penonton mempunyai kesempatan melihat 18 film yang mendapat penghargaan. Kategori karya dalam festival itu meliputi film, program TV, animasi, dokumenter, dan amatir. Menurut Any, karena banyaknya film yang diikutsertakan dalam festival, penyelenggara dari Asosiasi Film Katholik memutuskan memberikan tambahan penghargaan bagi film-film dari Indonesia, Kroasia, Italia, Polandia, Kanada, dan Spanyol. "Film Indonesia unggul karena menampilkan semangat solidaritas yang ditunjukkan dalam program CBR (community-based rehabilitation) ", kata Any Muryani mengutip penjelasan panitia.
Menurut dia, festival tersebut membuka semua kesempatan bagi pengarang, penulis cerita dan sutradara mempresentasikan dan mempromosikan hasil karyanya seperti film yang menyentuh masalah aktual seperti aborsi, narkotika.Sebelumnya, film Indonesia yang mendapat penghargaan pada festival tersebut pada tahun 2006 lewat "Kasih yang Tak Henti Mengalir" karya Isti Purwi Tyas Utami.Any yang juga kepala Pensosbud KBRI Warsawa, pihaknya telah menerima Piagam dari panitia dan segera mengirimkannya ke Haryo Sentanu Murti, sutradara film tersebut."Panitia berharap Indonesia dapat tampil kembali dalam festival berikutnya yang akan diselenggarakan pada Mei 2010", kata Any Muryany. (*)

horor..

Film Horor di Indonesia

Sekarang ini banyak film horor yang bertebaran, tapi kualitasnya kurang banget. nah...disini kita para anak muda , harus berfikir kritis menanggapi berbagai film indonesia. khususnya film horor, kenapa harus film horor...???
jawabannya ada pada diri kita sendiri!

Dampak psikologis yang diakibatkan oleh tayangan ini tak jarang membuat mental kita mnjadi penakut. contoh nya aku sekarang ini yang menjadi penakut...hhe..

klo kalian gimana kawan??

Rabu, 03 Juni 2009

OSCAR

"Slumdog Millionaire" Raih 10 Nominasi

Setelah sukses meraih empat penghargaan Golden Globe Award, film Slumdog Millionaire berpeluang mengulang sukses yang sama di ajang puncak supremasi industri film Amerika Serikat, Academy Award. Dalam pengumuman nominasi Academy Award 2009 di Beverly Hills, Los Angeles, AS, Kamis (22/1) waktu setempat atau Jumat WIB, film tersebut meraih 10 nominasi, termasuk kategori film terbaik dan sutradara terbaik.

Film garapan sutradara Danny Boyle ini ada di urutan kedua peraih nominasi terbanyak setelah film The Curious Case of Benjamin Button yang mendapat 13 nominasi. Dua film sama-sama berada di urutan ketiga dengan delapan nominasi, yakni film thriller superhero The Dark Knight dan drama biografi Milk.

Slumdog Millionaire bercerita tentang seorang anak miskin di lingkungan kumuh (slum) kota Mumbai yang mendadak menjadi kaya setelah menang dalam kuis Who Wants To Be A Millionaire versi India.

Sukses film tersebut di ajang Golden Globe dan Academy Award mendapat sambutan meriah dari masyarakat India karena meski dibuat oleh perusahaan film Inggris, film tersebut dibintangi sebagian besar oleh aktor India, diambil gambarnya di Mumbai, dan musiknya ditata oleh musisi asli India, AR Rahman.

Tiga dari sepuluh nominasi Oscar Slumdog Millionaire adalah untuk hasil karya Rahman, yakni lagu ”Jai Ho” dan ”O Saya”, di kategori lagu film terbaik dan musik film terbaik.
Anumerta

Di kategori pemeran, seperti telah diduga banyak orang, aktor Heath Ledger diunggulkan dalam kategori aktor pendukung pria terbaik untuk permainannya sebagai The Joker dalam film The Dark Knight. Sebelumnya, aktor asal Australia ini juga memenangi Golden Globe Award di kategori yang sama.

Semua pengakuan akan kemampuan akting Ledger ini diberikan secara anumerta, tepat setahun setelah ia meninggal dunia karena overdosis di rumahnya di New York, 22 Januari 2008. Jika menang, Ledger akan menjadi aktor kedua peraih Oscar secara anumerta setelah Peter Finch. Finch meraih Oscar sebagai aktor utama pria terbaik dalam film Network (1976), hanya dua bulan setelah ia tewas karena serangan jantung.Pasangan suami istri Brad Pitt dan Angelina Jolie sama-sama diunggulkan di kategori pemeran utama terbaik. Pitt untuk permainannya sebagai Benjamin Button dalam The Curious Case of Benjamin Button, sementara Jolie diunggulkan dalam aktingnya sebagai Christine Collins dalam film drama misteri Changeling.
waH-waH...
pRend...ayo coment...

Slomdog Milionaire

Rumah Bintang Film 'Slumdog Millionaire' Digusur



Azhruddin Mohammed (ist.)

Mumbai, Sungguh ironis nasib pemain film 'Slumdog Millionaire', Azhruddin Mohammed Ismail. Walau film yang dibintanginya sukses dan mendapat banyak penghargaan, Azhruddin tidak juga terangkat dari garis kemiskinan. Buktinya ia dan keluarganya harus rela menjadi tuna wisma setelah rumahnya digusur.
Azhruddin yang baru berusia 10 tahun harus merelakan rumahnya diratakan oleh aparat pemerintahan kota Mumbai. Kamis (13/5/2009) pagi waktu setempat, pintu rumah keluarga Azhruddin yang terletak di daerah kumuh Mumbai digedor-gedor aparat kepolisian.Polisi meminta pemeran Salim Malik muda itu dan keluarganya segera hengkang dari rumah kesayangan mereka.
Polisi mengatakan akan segera meratakan rumah liar mereka. Tak hanya rumah Azhruddin, 30 rumah tetangganya juga dibuldoser petugas.Sama halnya dengan penggusuran di Indonesia yang selalu diwarnai aksi arogansi dan kekerasan aparat pemerintah, Azhruddin juga mendapat tindak penganiyaan."Seorang polisi mengambil tongkat bambu lalu memukulku dengan tongkat itu. Aku benar-benar ketakutan saat itu," ujarnya polos seperti dikutip detikhot dari Contactmusic, Jumat (15/5/2009).
Nazhruddin dan keluarganya terkejut dengan penggusuran itu karena sebelumnya mereka tidak mendapat pemberitahuan sebelumnya. "Mereka tidak memperingati kami terlebih dahulu. Kami pun tak sempat menyelamatkan barang-barang milik kami. Semuanya hancur rata dengan tanah. Kami sekarang bingung karena tak punya harta dan rumah lagi," jelas Shameem Ismail, ibunda Azhruddin.
Karena tak punya uang dan belum ada yang memberikan penginapan sementara, keluarga tersebut tidur di dekat reruntuhan rumah mereka. Sebelum peristiwa memilukan ini terjadi, Azhruddin juga harus mendapat musibah lain.Ayahnya, Ismail, dituduh telah melakukan pemukulan terhadap Azhruddin. Sang ayah pun sempat ditahan dan diharuskan meminta maaf kepada Azhruddin di depan umum.

Ratih Pramita Sari - Detikhot

Rabu, 27 Mei 2009

Perbedaan antara kamera lomo?
Apa sih beda antara Lomo Fish eye, lomo colour splash, ama lomo action sampler, dari segi gambar yang dihasilkan?

Lomo fish-eye: punya lensa tambahan yg berbentuk bola di atas kamera. Gambar yg dihasilkan seperti bayangan di cermin cembung, atau lebih tepat lagi, seakan2 objek difoto melalui lubang intip pintu (fish eye).
Lomo color splash :Kamera dgn flash (lampu blitz) yg berwarna. Gambar yg dihasilkan seakan mendapat cipratan warna (color splash). Ada 4 warna yg bisa dipilih. Selain itu juga ada filamen warna yg bisa dibeli terpisah dan ditempel di blitz. Jadi, kita bisa menggunakan 2-3 warna sekaligus. Objek yg difoto seakan mendapat sorotan lampu warna warni.
Lomo Action Sampler :Kamera ini memiliki 4 lensa yang berbaris bersebelahan. Dalam jangka waktu 1 detik, keempatnya menangkap gambar secara berurutan, dalam jarak 1/4 detik. Jadi, kamera ini mengambil 4 contoh aksi (action sample) anda dalam 1 detik.
LOMO utk pemula?LOMO adalah kamera yg mudah digunakan. Anda hanya tinggal membidik. Sayangnya, apa yg anda lihat,belum tentu apa yg ditangkap kamera ini.Lebih baik lihat kebiasaan n kebutuhan anda.Bila anda senang foto2 pemandangan, diantara ketiga ini, lebih baik pilih Fisheye. Terutama bila anda ikut difoto bersama pemandangan tsb. Bila anda berada di tengah fokus, maka foto yg dihasilkan akan sgt unik untuk anda pamer2kan.Bila anda senang foto di tempat indoor saat hangout dgn tmn2, Color Splash mungkin yg plg dpt menangkap fun & excitement yg anda alami.Bila anda senang memfoto objek yg punya pergerakan, seperti menari, melompat, dsb, maka anda cocok dgn Action Sampler. Karena anda akan mendapatkan gambar pada banyak pose.Diantara ketiganya,Color Splash yg paling tergantung pada intensitas cahaya & arah datang cahaya.Fish-Eye yg menghasilkan gbr paling tak mirip dgn kamera biasa. Action Sampler yg paling boros film (gbr yg dihasilkan paling mirip dgn kamera biasa).
materi referensi:
Http://www.Lomography.com

Rabu, 06 Mei 2009

Sejarah Fotografi

Fotografi

Sejarah bahasa kata Photography berasal dari bahasa Yunani yaitu, photo yang artinya cahaya dan graph yang artinya lukis. Dari dua kata tersebut, fotografi bisamu diartikan menjadi melukis dengan cahaya. Sebagai istilah umum, fotografi berarti proses atau metode untuk menghasilkan gambar atau foto suatu obyek dengan merekam pantulan cahaya yang mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya. Alat paling populer untuk menangkap cahaya ini adalah kamera.

Kekhasan bidang fotografi terletak pada alat bantu utamanya yaitu kamera berikut prosesnya. Sejak ditemukannya, camera obscura memang diharapkan untuk merekam realitas secara persis. Cikal kelahirannya antara lain dilatari keinginan pelukis untuk membuat gambar yang realis. Susan Sontag dalam In Plato’s Cave mengatakan bahwa fotografi seperti halnya lukisan, gambar, dan tulisan adalah interpretasi dunia. Dulu kamera disambut baik oleh karena ketepannya merekam realitas secara statis, namun pada perkembangan wacana, nampak ada perdebatan tentang realitas yang diabadikan. Kata kuncinya adalah fotografi bukan lagi memetik atau tiruan dari realitas tapi hasil karya foto adalah bentuk interpretasi dunia. Karena dalam sebuah foto, salah satu bagian dunia akan coba digambarkan dalam bentuk visual.

Sejarah Fotografi
Sejarah fotografi sangatlah panjang, dalam buku The History of Photography karya Alma Davenport, terbitan University of New Mexico, disebutkan bahwa pada abad ke-5 sebelum masehi, seorang pria bernama Mo Ti mengamati sebuah gejala. Jika pada dinding ruangan yang gelap terdapat lubang, maka di bagian dalamnya akan tercipta sebuah refleksi gambar pemandangan terbalik dari luar ruangan yang terkena cahaya matahari dan lurus dengan lubang. Lalu seorang arab bernama Ibnu Al-Haitham menemukan fenomena yang sama pada tenda miliknya. Demikianlah prinsip kerja fotografi untuk pertama kali dikenal.

Hanya sebatas itu informasi yang masih bisa kita gali seputar sejarah awal fotografi karena keterbatasan catatan sejarah. Bisa dimaklumi, di masa lalu informasi tertulis adalah sesuatu yang amat jarang. Tahun 1519 Leonardo Da Vinci mempopulerkan mainan yang banyak digunakan para pelukis, yaitu kamera obscura, sebuah perkakas praktis yang terdiri dari kotak sempit-ringan dengan sebuah cermin, sebuah kaca putar atau layar kertas, dan sebuah lubang sebesar ujung jarum (pinhole). Para pelukis menggunakan alat ini untuk mengubah pemandangan tiga dimensi.

Kamera Obscura banyak dimodifikasi oleh para seniman, tetapi tetap saja ada ketidakpuasan karena citra yang ditampilkan tidak jelas, selain itu ketidakpuasan lain adalah bagaimana merekam gambar pemandangan di depan kamera seperti layaknya sebuah lukisan.
Secara sederhana sejarah dan perkembangan fotografi di bagi dalam 3 era. Era ini dibagi berdasarkan dari teknologi pada kamera dan bahan untuk merekam gambarnya. Erat tersebut adalah

1. Era Pra Negatif Film
Foto-foto telah tercipta pada tahun 1826, seorang peneliti Prancis, Joseph Nicephore Niepce, menghasilkan foto pertama dalam sejarah manusia. Foto yang berjudul View from Window at Gras ini kini tersimpan di University of Texas di Austin, AS. Niepce membuat foto dengan melapisi plat logam dengan senyawa buatannya. Plat tersebut disinari dalam kamera Obscura sampai tercipta imaji. Niepce menamakan proses ini dengan nama Heliography yang artinya melukis dengan cahaya tetapi metode Niepce sangatlah sulit diterima karena lamanya penyinaran bisa antara 8 jam sampai tiga hari.
Pada tahun 1929 Louis Daguerre bekerjasama dengan Niepce menyempurnakan penemu tersebut dengan hasil pengurangan waktu pencahayaan menjadi setengah jam. Daguerre juga menemukan citra atau gambar dapat ditetapkan dengan larutan garam. Penemuan ini dinamakan Daguerrotype. Penemuan ini masih mempunyai banyak kelemahan yaitu, mahal dan tiap foto tidak dapat digandakan karena merupakan gambar positif. Pada tahun yang sama ketika Deguerre menerima penghargaan dari pemerintah Prancis.
William Fox Talbot menemukan cara untuk mencetak foto di atas kertas putih yang dilapisi perak klorida. Ini adalah solusi untuk masalah dari penemuan dari Deguerre. Penemuan kertas untuk mencetak foto ini terus disempurnakan, salah satunya dengan proses pelapisan plat kaca dengan putih telur yang diformulasikan dengan kalium iodid dan dicuci dengan larutan asam perak nitrat. Proses ini membuat kualitas gambar menjadi lebih bagus dan menampakkan butiran-butiran yang detil.
Tahun 1851 Frederick Scott Archer mengenalkan proses kolodin. Proses ini jauh lebih cepat dan murah daripada metode konvensional diatas, mengurangi lama pencahayaan menjadi dua atau tiga detik saja. Pada proses kolodion, yang pertama harus dilakukan adalah menuang cairan kolodion ditengah-tengah plat dan meretakannya dengan bantuan gelas. Setelah disensitifkan dengan perak nitrat, plat harus segera digunakan untuk memotret sebelum plat menjadi kering. Seusai memotret plat harus segera dikembangkan karena jika semakin kering emulsi kolodion menjadi kurang sensitif. Proses ini dikenal sebagai wet-plate photography.
Langkah besar selanjutnya, pada tahun 1871, Dr. Richard Maddox menggunakan gelatin yang lebih fleksibel daripada kaca sebagai dasar plat foto. Langkah ini mengawali proses plat kering. Proses dapat dikembangkan lebih cepat dari proses sebelumnya.

2. Era Negatif Film
Fotografi menjadi sangat populer ketika George Eastman menemukan roll film. Roll film yang kita gunakan sampai sekarang merupakan elemen yang praktis dan mudah dibawa kemanapun. Tidak hanya itu, pada juli 1888 Eastman memproduksi kamera kotak (box camera) yang dirancang untuk roll film dengan merk kodak. Slogan yang digunakan adalah “you press the botton, we do the best”. Kamera berseri kodak nomor 1 ini menawarkan kepraktisan yang belum pernah ada sebelumnya. Dengan kecepatan tunggal 1/25 detik dan lensa tetap (fised lens), kamera kotak ini mampu merekam objek dengan jelas dari delapan meter.
Foto berwarna pertama kali di gunakan pada kisaran tahun 1800. James Clerk Maxwel adalah orang pertama kali membuat foto berwarna tepatnya pada tahun 1861. Untuk membuat foto berwarna James menggunakan 3 kamera dimana tiap-tiap kamera diberi filter-filter yang berbeda. Teknik dasar ini sampai sekarang pun masih dipergunakan untuk dasar channel warna. Kemudian muncul Autochrome sebagai film warna yang pertama kali pada tahun 1907 tetapi tidak di pasarkan dan pada tahun 1935 muncullah Kodakchrome dengan basic tiga warna emulsi. Fotografi semakin berkembang dengan ditemukannya pula film negatif hitam-putih, film tungsten, film infra merah dam film positif slide.

3. Era Fotografi Digital
Seiring dengan berjalannya waktu terciptalah sebuah kamera digital. Sebuah kamera foto tang menggunakan sensor elektronik sebagai media rekam imaji dan kemudian dirubah menjadi data. Kemajuan teknologi memang memacu fotografi berkembang secara cepat. Kalau dulu kamera sebesar mesin jahit hanya bisa menghsailkan gambar yang tidak terlalu tajam, kini kamera digital yang cuma sebesar dompet mampu membuat foto yang sangat tajam dalam ukuran sebesar koran.
Tahun 1981, perusahaan elektronik SONY meluncurkan teknologi rekam digital untuk yang pertama kalinya sebuah media rekam tanpa film dengan merk Sony Mavica tapi teknologi ini masih belum bisa dibilang sebagai sebuah kamera digital karena menggunakan televisi sebagai display.
Ditahun 1990, Kodak mengeluarkan produk DSC 100 inilah kamera digital pertama dan langsung mendapat sambutan baik dari dunia fotografii jurnalistik dan profesional.
Beberapa kelebihan dari kamera digital yang tidak bisa ditandingi oleh kamera analog adalah kemampuan merekam audio video dan preview hasil jepretan. Kepraktisan dan efisiensi kamera digital membuat banyak orang kini beralih ke dunia fotografi digital. Kini kamera digital yang cuma sebesar dompet dan hasilnya bisa langsung dilihat hampir saja menggeser fotografi analog.
Fotografi berkembang sangat cepat. Tidak semata cahaya matahari saja yang bisa dipakai untuk merekam gambar. Cahaya buatan manusia dalam bentuk lampu sorot dan lampu kilat pun diciptakan untuk membuat fotografi lebih fleksibel. Tahun 1940, Dr. Harold Edgerton dibantu Gjon Mili menemukan lampu yang bisa menyala dan mati berkali-kali dalam hitungan detik.
Penemuan sinar X membuat fotografi menjadi berguna pada dunia kedokteran. Tahun 1901, seorang peneliti bernama Conrad Rontgen menemukan manfaat sinar X untuk pemotretan tembus pandang. Temuannya itu kemudian dinamakan alat Rontgen. Kemudian ditemukan film inframerah yang membantu peneliti di daerah berkabut. Kabut yang tidak tembus cahaya biasa bisa tembus dengan sinar inframerah. Fotografi inframerah banyak digunakan untuk pemotretan udara ke daerah-daerah yang tertutup kabut.
Teknologi fotografi yang lain adalah foto polaroid yang ditemukan Edwin Land. Foto Polaroid ini dibuat dengan kamera Polaroid, kamera yang tidak menggunakan film tetapi langsung memasukkan kertas foto didalam kamera dan fotonya dapat langsung jadi hanya dengan mengibas-ngibaskan sebentar, ini banyak digunakan oleh juru foto keliling ditaman-taman wisata.
Banyak cabang kemajuan fotografi yang terjadi, tetapi banyak yang mati di tengah jalan. Foto Polaroid yang ditemukan Edwin Land, umpamanya, pasti tidak dilirik orang lagi karena kini foto digital juga sudah nyaris langsung jadi. Juga temuan seperti format film APS (Advance Photo System) tahun 1996 yang langsung mati suri karena teknologi digital langsung masuk menggeser semuanya.

Sejarah Fotografi di Indonesia
Awal kedatangannya, perkembangan fotografi Indonesia selalu mengait dan mengalir bersama momentum sosial-politik perjalanan bangsa ini. Mulai dari momentum perubahan kebijakan politik kolonial, revolusi kemerdekaan, ledakan ekonomi awal 1980-an, sampai reformasi 1998. Pada abad ke-19, fotografi didatangkan sebagai bagian dari tradisi representasi visual baru oleh teknologi kamera, dalam rangka lebih memperkenalkan tanah jajahan dan penghuninya: manusia, hewan, dan tumbuhan. Tradisi ini kemudian berkembang sebagai dokumentasi visual yang secara sistematis mencatat properti dan wilayah pemerintah kolonial: yang kemudian dipakai sebagai sertifikat keberhasilan Belanda memperadabkan tanah jajahan dan dipamerkan di berbagai kolonial dunia.

Tahun 1841, seorang pegawai kesehatan Belanda, atas perintah kementrian kolonial, mendarat di Batavia dengan membawa dauguerreotype. Juriaan Munich, nama Ambtenaar itu, diberi tugas “to collect photographic representation of principal views and also of plants and other natural objects” (Groeneveld 1989). Tugas ini berakhir dengan kegagalan teknis. Di Holand Tropika, uuntuk menyebut wilayah mereka di daerah tropis, Munich kelabakan mengendalikan sensitivitas cahaya plat yang dibawanya, kelembapan udara yang mencapai 90 persen dan terik matahari yang tegak lurus dengan bumi. Foto terbaik yang dihasilkannya membutuhkan waktu eksposure 26 menit.

Akhirnya kamera menjadi bagian dari teknologi modern yang dipakai Pemerintah Belanda menjalankan kebijakan barunya dan dengan membangun dan menguasai teknologi transportasi dan komunikasi modern. Pada saat itu fotografi menjalankan fungsinya lewat pekerja administratif kolonial, pegawai pengadilan, militer, dan misionaris. Inilah yang menjelaskan, mengapa selama 100 tahun keberadaan fotografi di Indonesia (1841-1941) penguasaan alat ini secara eksklusif berada di tangan orang eropa, sedikit orang China dan Jepang. Survei fotografer dan studio foto komersial di Hindia Belanda 1850-1940 menunjukkan dari 540 studio foto di 75 kota besar dan kecil, terdapat 315 nama Eropa , 186 China, 45 Jepang dan hanya 4 nama “lokal”. Cephas di yogyakarta, A Mohamad di Batavia, Sarto di Semarang, dan Najoan di Ambon.

Sedangkan bagi penduduk lokal, keterlibatan mereka dengan teknologi ini adalah sebagai objek terpotret, sebagai bagian dari properti kolonial. Kontak langsung mereka dengan produksi fotografi adalah sebagai tukang angkut peti peralatan fotografi. Pemisahan ini berdampak panjang pada wacana fotografi di Indonesia di kemudian hari, di mana kamera dilihat sebagai perekam pasif, sebagai teknologi yang melayani kebutuhan praktis.

Dibutuhkan hampir 100 tahun bagi kamera untuk benar-benar sampai ke tangan orang Indonesia. Masuknya Jepang tahun 1942 menciptakan kesempatan transfer teknologi ini. Karena kebutuhan propagandanya, Jepang mulai melatih orang Indonesia menjadi fotografer untuk bekerja di kantor berita mereka, Domei. Mereka inilah, mendur dan umbas bersaudara, yang membentuk imaji baru Indonesia, mengubah pose simpuh di kaki kulit putih, menjadi manusia merdeka yang sederajat. Foto-foto mereka adalah visual-visual khas revolusi, penuh dengan kemeriahan dan optimisme, beserta kesetaraan antara pemimpin dan rakyat biasa. Inilah momentum ketika fotografi benar-benar “sampai” ke Indonesia, ketika kamera berpindah tangan dari orang Indonesia mulai merepresentasikan dirinya sendiri.

Perkembangan industri media cetak di Indonesia sejak awal 1970-an memang menjadi momentum penting bagi kelahiran fotografer- fotografer baru. Namun, industri media cetak tidak menaruh perhatian lebih jauh pada peran fotografi. Pencantuman kredit nama fotografer pada setiap foto yang dipublikasikan pun mulai pada awal 1990-an. Mereka juga merasa cukup dengan fotografer hasil didikan kursus kilat fotografi atau para otodidak. Dari sini, tidak berarti tidak ada bakat yang berkembang, namun tidak cukup untuk menjadi sebuah fenomena dalam sejarah fotografi Indonesia, selain menjadi catatan khusus individu yang luar biasa seperti Kartono Ryadi. Sering kali bakat-bakat menjanjikan yang disemai dari wilayah ini, justru terseret ritme kerja industri media yang menenggelamkan mereka dalam rutinitas. Untuk periode yang cukup lama (1970an-1990an), fotografi Indonesia terbenam dalam fungsi melayani industri.

Dengan total oplah sekitar empat juta eksemplar, media massa cetak di Indonesia menjadi wilayah perkembangan yang sangat penting dalam periode ini karena dia menjadi satu-satumya ruang yang paling mungkin. Karena ruang perkembangan fotografi yang lain seperti galeri, museum, industri buku, festival, dan pasar fotografi lebih sedikit lagi menyediakan kesempatan. Dari sinilah pulalah kita bisa memahami mengapa agensi foto tidak berkembang di Indonesia sampai awal abad ke-21, karena sebagian besar jurnalis foto sudah tertampung dalam medianya masing-masing.

Dari sini sebenarnya menarik untuk melihat fakta bahwa dalam periode pemerintahan militer soeharto (1966-1998) yang banyak melakukan pembatasan kebebasan berekspresi, tidak hanya tercatat sensor terhadap foto atau media cetak tertutup karena publikasi salah satu fotonya, kecuali dengan alasan pornografi. Hal ini dapat dijadikan sebagai salah satu parameter pendeknya fotografi sebagai medium ekspresi, plus ketidakacuhannya pada kondisi masyarakatnya. Mereka akan kesulitan untuk memublikasikan atau memamerkan karya mereka. Sampai awal 1990, fotografi Indonesia belum mendapatkan momentum untuk berkembang lebih jauh dari apa yang sudah dijalaninya selama 150 tahun.

Momentum tersebut perlahan terbangun saat Institut Kesenian Jakarta, yang berdiri sejak tahun 1971, membuka Departemen Fotografinya tahun 1992. Pada tahun yang sama, kantor berita Antara mendirikan Galeri Foto Jurnalistik Antara, galeri pertama yang mengkhususkan diri pada foto jurnalistik. Dua tahun kemudian, Institut Seni Indonesia di Yogyakarta juga membuka Depertemen Fotografi. Lewat tiga institusi inilah untuk pertama kalinya, fotografi Indonesia menemukan ruang berkembang yang konsisten, terstruktur dan sistematis, di luar praktik keseharian. Mereka memberi tempat pada minat, untuk berkembang.
Pada saat yang sama mereka juga mulai membangun apresiasi publik untuk menyadari bahwa fotografi bukan sekedar “you press the button, we do the rest”. Momentum ini memuncak pada reformasi politik 1998. Atmosfer kebebasan pada saat itu mendorong para fotografer menyampaikan pendapat visual mereka dalam berbagai pameran. Dan publik pun mendapat suguhan pilihan representasi visual di luar media massa. Pameran foto menjadi acara kebudapopuyaan yang populer, begitu pula identitas sebagai fotografer. Momentum ini juga didukung dengan bermunculannya galeri foto, organisasi fotografi, dan agensi foto.

Dengan dukungan momentum dan insfrastuktur di atas, generasi terbaru fotografi Indonesia mulai yakin untuk mengembangkan minat dan gaya di luar kejamakan di atas. Mereka masuk lebih dalam pada subyek yang mereka garap, atau menjadikan pengalaman personal sebagai karya otobiografis. Mereka tidak lagi khawatir bahwa karya tersebut tidak mendapat ruang apresiasi. Di samping itu, berbagai peristiwa sosial politik besar dan bencana alam datang silih berganti, menjadi tambahan momentum yang menuntut para fotografer untuk bersikap dan mengekspresikannya dalam bentuk-bentuk yang baru. Bersamaan dengan ini, diskusi aspek nonteknis fotografi berkembang di media massa cetak, katalog pameran, majalah, dan seminar.

by : Ratih P.S

Rabu, 25 Maret 2009

[Lomba Surabaya] Lomba Foto & Artikel Tingkat SMA dan Mahasiswa Se-JAwa Timur, Total Hadiah 12 Jutaan (15 Maret 2009 – 20 April 2009)


Lomba Foto & Artikel Tingkat SMA dan Mahasiswa
Tema : Potensi Budaya dan Pariwisata Jawa Timur Di Balik Lensa

Ketentuan Umum Lomba :
- Foto merupakan hasil karya sendiri yang diambil pada tanggal 15 Maret – 20 April 2009
- Pendaftaran dilakukan pada tanggal 16 Maret – 21 April 2009
- Penjurian tahap I dilakukan pada tanggal 22 April – 25 april 2009
- Pengumuman 50 karya terpilih dan 20 karya yang lolos babak final tanggal 27 april 2009
- Babak Final dilaksanakan pada tanggal 02 Mei 2009

Syarat Umum Lomba :
- Peserta bertanggungjawab penuh atas foto
- Foto belum pernah diikutsertakan dalam bentuk lomba apapun
- Foto yang dikirim tidak boleh mengandung unsur SARA, provokatif dan pornografi
- Keputusan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat

Ketentuan Lomba Kategori SMA :
- Setiap peserta mengirimkan 2 buah foto (ukuran 10R) dan 1 buah artikel terkait tema panjang naskah minimal 750 kata diketik dengan kertas A4, font 12, Times New Roman, spasi 1,5.
- Tidak boleh melakukan olah digital dalam bentuk apapun
- Peserta membayar uang pendaftaran sebesar Rp 30.000,-
- Melampirkan copy kartu pelajar yang masih berlaku
- Menyerahkan CD yang berisi : file foto dan artikel beserta data diri lengkap peserta


Ketentuan Lomba Kategori Mahasiswa :
- Setiap peserta mengirimkan 2 buah foto (ukuran 10R) dan 1 buah artikel terkait tema panjang naskah minimal 1000 kata diketik dengan kertas A4, font 12, Times New Roman, spasi 1,5.
- Diperbolehkan melakukan saturasi warna dalam skala normal dan cropping tanpa menghilangkan objek foto
- Peserta membayar uang pendaftaran sebesar Rp 50.000,-
- Melampirkan copy kartu Mahasiswa yang masih berlaku
- Menyerahkan CD yang berisi : file foto dan artikel beserta data diri lengkap peserta

Dewan Juri:
Yuyung Abdi : Redaktur Foto Harian Jawa Pos
Suko Widodo : Dosen Komunikasi FISIP UNAIR
Perwakilan dari Dinas Budaya dan Pariwisata Jawa Timur

Pengiriman Hasil Karya :
Panitia Lomba Foto dan Artikel
Student Center LPM FORMAT Fakultas Sains dan Teknologi
Jl Mulyorejo Kampus C Universitas Airlangga Surabaya 60115

Pembayaran :
Dapat di lakukan langsung di tempat pendaftaran atau Transfer ke rekening
BCA : an. Moh Yenri Shufianto
no. rek 2581640490 BCA KCU Diponegoro Surabaya

Contact Person :
Putri : 031 78205079
Indah : 085646219599
Zen : 087853029265
Website : lombafotoformat.wordpress.com
Email : lombafotoformat@gmail.com

Hadiah :
Kategori Pelajar:
- Juara I Rp 2.000.000,-
- Juara II Rp 1.500.000,-
- Juara III Rp 1.000.000,-
- Harapan I => 7 @ Rp 100.000,- Rp 700.000,-

Kategori Mahasiswa:
- Juara I Rp 3.000.000,-
- Juara II Rp 2.000.000,-
- Juara III Rp 1.000.000,-
- Harapan 1 => 7 @ Rp 150.000,- Rp 1.050.000,-

Sumber : halaman asli

SAYEMBARA FOTO DAN VIDEO KAMPENYE DEMOKRAT 2009 (LOMBA FOTO 17 MARET - 5 APRIL 2009)

SAYEMBARA FOTO DAN VIDEO
KAMPENYE DEMOKRAT 2009

KATEGORI

Umum & Wartawan
KETENTUAN UMUM :
- Peserta adalah Warga Dunia, yang berdomisili di dalam maupun di luar negeri
- Lomba di mulai dari tanggal pengumuman dari iklan yang di tayangkan di KOMPAS.
Di tutup pada tanggal 11 April 2009, pukul 23.59 WIB.
- Hasil lomba foto / video ini akan di nilai oleh Dewan Juri untuk dipilih 3 orang pemenang untuk setiap kategori.
- Keputusan Dewan Juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat, serta tidak melayani tanya jawab.
- Peserta yang mengirimkan foto / video dengan nama orang lain akan di kenai sanksi diskualifikasi. Sanksi diberikan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

KETENTUAN KHUSUS :
- Pengiriman foto / video dialamatkan ke Panitia Penyelenggara.
- Jumlah foto / video yang dikirim ke panitia maksimal 5 (lima) per peserta.
- Durasi video maksimal 3 menit per klip.
- Penamaan judul foto selalu diawali dengan kalimat :

LOMBA FOTO & VIDEO KAMPANYE DEMOKRAT
- Lokasi pengambilan gambar adalah Wilayah Negara RI.
- Media Foto : Kamera Digital DSLR, Kamera Saku (pocket), Min. 3 MP.
- File yang dikirim dalam format Print out ukuran 10 R atau format JPEG maks. 1 MB
- Media Video : Kamera Digital Video Resolusi NTSC 480i atau PAL 5761.
- File video yang dikirim dalam format. Mov atau mp4.
- Warna foto / video bebas.

KRITERIA PENILAIAN :
- Foto/ video asli/ orisinil, bukan rekayasa komputer/ manipilasi foto/ bajakan.
- Unsur yang akan dinilai : tema/ pesan, teknik pemotretan/ pengambilan gambar dan penataan artistik.
- Masa lomba : tanggal 17 Maret, pukul 00.00 WIB hingga tanggal 5 April 2009, pikul 23.59 WIB.
- Foto harus bertemakan “Demokrat Campaign Tour 2009” yang menggambarkan situasi kampanye terbuka Partai Demokrat 2009.
- Hak cipta tetap pada peserta lomba, sedangkan hak publikasi/ hak pakai ada pada pihak penyelenggara.

Masing-masing pemenang akan mendapat uang tunai senilai :
JUARA I Rp. 35.000.000,-
JUARA II Rp. 20.000.000,-
JUARA III Rp. 12.500.000,-

Kirimkan materi lomba ke panitia penyelenggara :
Bravo Media Center (BMC)
Jl. Teuku Umar 51, Menteng, Jakarta Pusat 10350
CP : Eman (0813 85453961)
Materi diterima paling lambat tanggal 15 April 2009 (cap pos)

Sumber : halaman asli

Selasa, 24 Maret 2009

Sinematografi

SINEMATOGRAFI. Ada beberapa istilah perfileman yang kita tidak tau apa itu artinya salah satunya “sinematografi” sebenarnya orang banyak sekali membicarakan mengenai sinematografi itu sendiri namun banyak pula yang kurang paham akan hal tersebut, sebenarnya apa sih “sinematografi” itu sendiri?

Sinematografi adalah kata serapan dari bahasa inggris Cinematograhy yang berasal dari bahasa latin kinema ‘gambar’. Sinematografi sebagai ilmu serapan merupakan bidang ilmu yang membahas tentang teknik menangkap gambar dan menggabung-gabungkan gambar tersebut hingga menjadi rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide (dapat mengemban cerita).

Sinematografi memiliki objek yang sama dengan fotografi yakni menangkap pantulan cahaya yang mengenai benda. Karena objeknya sama maka peralatannya pun mirip. Perbedaannya Fotograpfi menangkap gambar tunggal, sedangkan sinematografi menangkap rangkaian gambar.

Penyampaian ide pada fotografi memanfaatkan gambar tunggal, sedangkan pada sinematografi memanfaatkan rangkaian gambar. Jadi sinematografi adalah gabungan antara fotografi dengan teknik rangkaian gambar atau dalam senematografi di sebut montase (montage)

Sinematografi sangat dekat dengan film dalam pengertian sebagai media penyimpanan maupun sebagai genre seni. Film sebagai media penyimpanan adalah pias (lembaran kecil) selluloid yakni sejenis bahan plastik tipis yang dilapisi zat peka cahaya.Benda inilah yang selalu digunakan sebagai media penyimpanan di awal pertumbuhan sinematografi.

Untuk lebih lengkap bisa dilihat di

Heru Efendy,2002,Mari Membuat Film,Panduan Menjadi Produser,Yogyakarta:Panduan

Askurifai Baksin,2003,Membuat film indie itu gampang, Bandung Katarsis

Mungkin ini dapat sedikit menambah wawasan mengenai istilaf film, tapi apapun istilahnya apapun hukumnya dalam pembuatan film harus keluar dari dalam hati dan berani karena itu semua adalah seni.

Ada beberapa istilah perfileman yang kita tidak tau apa itu artinya salah satunya “sinematografi” sebenarnya orang banyak sekali membicarakan mengenai sinematografi itu sendiri namun banyak pula yang kurang paham akan hal tersebut, sebenarnya apa sih “sinematografi” itu sendiri?

Sinematografi adalah kata serapan dari bahasa inggris Cinematograhy yang berasal dari bahasa latin kinema ‘gambar’. Sinematografi sebagai ilmu serapan merupakan bidang ilmu yang membahas tentang teknik menangkap gambar dan menggabung-gabungkan gambar tersebut hingga menjadi rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide (dapat mengemban cerita).

Sinematografi memiliki objek yang sama dengan fotografi yakni menangkap pantulan cahaya yang mengenai benda. Karena objeknya sama maka peralatannya pun mirip. Perbedaannya Fotograpfi menangkap gambar tunggal, sedangkan sinematografi menangkap rangkaian gambar.

Penyampaian ide pada fotografi memanfaatkan gambar tunggal, sedangkan pada sinematografi memanfaatkan rangkaian gambar. Jadi sinematografi adalah gabungan antara fotografi dengan teknik rangkaian gambar atau dalam senematografi di sebut montase (montage)

Sinematografi sangat dekat dengan film dalam pengertian sebagai media penyimpanan maupun sebagai genre seni. Film sebagai media penyimpanan adalah pias (lembaran kecil) selluloid yakni sejenis bahan plastik tipis yang dilapisi zat peka cahaya.Benda inilah yang selalu digunakan sebagai media penyimpanan di awal pertumbuhan sinematografi.

Written by Andhi Pramudya W (Rollingaction.com)
Halaman lain

Teknik Fotografi

Teknis Fotografi & Fungsinya

Fotografi bukan segalanya tentang kamera. Dikatakan bahwa fotografi adalah seni bermain dengan cahaya. Tanpa adanya cahaya, maka mustahil fotografi itu ada. Menghasilkan sebuah gambar yang bagus, harus memiliki visi yang kuat dalam hal ‘melihat’. Memperhatikan cahaya, komposisi dan momen adalah hal-hal yang penting untuk diperhatikan dalam membuat foto yang dapat dikategorikan ‘bagus’.

Namun, sepertinya mustahil dapat menghasilkan foto seperti itu jika tidak mengenal dan memahami dari masing-masing teknis fotografi dasar. Fotografi memang bukan segalanya tentang kamera, namun kamera adalah alat untuk menyalurkan visi kita itu. Maka, sekiranya perlu mengenal dan memahami bagaimana kamera bekerja.


Tugas utama dari kamera adalah mengatur intensitas cahaya yang masuk dan pada akhirnya mengenai film/sensor (selanjutnya saya sebut medium). Apabila, kamera mengizinkan terlalu banyak cahaya yang masuk maka medium akan terbakar (overexposed). Dan sebaliknya. Bagaimana agar cahaya yang masuk itu tidak berlebih dan tidak kurang, atau dengan kata lain ‘pas’. Berikut saya jabarkan satu-satu.

Aperture
Atau yang sering juga disebut dengan difragma atau bukaan lensa adalah berfungsi untuk mengatur seberapa besar lensa akan terbuka. Fungsi ini lebih tepatnya terletak pada lensa. Logikanya, semakin besar bukaannya, maka akan semakin banyak cahaya yang akan masuk. Seperti sebuah kran air. Semakin besar kita buka keran tersebut maka akan semakin banyak air yang akan keluar.

Penulisan Aperture yang benar adalah f/x. Sehingga apabila dikatakan nilai Aperture-nya adalah 5.6, maka penulisan yang benar adalah f/5.6. Jadi jangan bingung apabila ada yang bilang bahwa bukaan lensa 2.8 lebih besar dari bukaan lensa 5.6. Karena kalau secara penulisan matematisnya memang benar khan? (f/2.8>f/5.6) Tapi kebanyakan kita malas untuk bilang f/2.8 atau f/5.6, karena kita orangnya simpel sih…

Efek Samping dari Aperture
Seperti obat batuk yang memiliki efek samping, begitu juga dengan aperture. Efek sampingnya adalah semakin besar bukaan lensa, maka akan semakin kecil daerah fokusnya. Dan sebaliknya. Daerah fokus inilah yang biasa dikenal dengan DOF (Depth of Field). Untuk lebih jelasnya, lihat foto berikut ini:


f/3.5, 1/125 detik @ 50mm ISO 100

Seperti contoh gambar diatas, terlihat bahwa daerah focus hanya pada putik bunganya saja. Sedangkan bagian mahkotanya sudah out of focus (blur). Tapi, coba lihat pengambilan dengan bukaan kecil ini.



f/11, 1/200 detik @ 17mm ISO 200

Pada contoh diatas hampir keseluruhan gambar terlihat tajam (kecuali objek yang memang jauh).


Shutter Speed
Atau yang biasa disebut juga dengan speed atau kecepatan rana bertugas untuk mengatur berapa lama mirror terbuka lalu menutup kembali untuk membatasi berapa banyak cahaya yang akan masuk. Seperti teori keran, apabila kita membuka keran terlalu lama, maka wadah penampung air tadi akan kelebihan sehingga akan meleber keluar. Kalau dalam kasus fotografi, medium akan terbakar.

Penulisan shutter speed yang benar adalah 1/x. Sehingga apabila dikatakan bahwa sebuah foto menggunkanan speed 60, maka penulisannya yang benar adalah 1/60 detik. Jadi jangan bingung kalau dikatakan bahwa speed 60 lebih cepat dibandingkan 30. karena secara penulisan matematis memang begitu khan?

Efek Samping dari Shutter Speed
Seperti berpacaran yang memiliki efek samping, seperti sulit melirik wanita/pria lain, begitu juga dengan shutter speed. Semakin cepat shutter speed, maka akan gambar akan semakin terlihat diam (freeze). Dan sebaliknya, apabila speed terlalu lamban gambar akan terlihat blur dikarenakan gerakan yang terlalu cepat, sehingga objek terlihat bergerak sangat cepat. Lebih jelasnya, silahkan lihat foto berikut sebagai ilustrasi:



1/320 detik, f/5.6 @ 17mm ISO 100

Kuda sedang berlari (gak mungkin sedang nari khan?) terlihat diam dengan menggunakan shutter speed yang cepat.



1/15 detik, f/11 @ 17mm ISO 400
orang yang sedang duduk terlihat tajam, sedangkan kendaraan dibelakangnya yang bergerak terlihat blur.

ISO atau ASA
Adalah tingkat sensitifitas medium dalam menerima cahaya. Semakin tinggi nilainya, maka akan semakin tingkat sensitifitasnya. Artinya, apabila kita merubah nilai ISO atau ASA ini menjadi lebih tinggi, sedangkan aperture dan speednya tidak diubah, maka medium akan menerima cahaya lebih banyak. Dan sebaliknya.

Efek Samping ISO atau ASA
ISO adalah tingkat sensitifitas sensor (medium), sedangkan ASA adalah tingkat sensitifitas film (medium), jadi perbedaannya hanya dimediumnya saja. Tapi logikanya sama. Kecuali efek sampingnya. Dimana apabila menggunakan film ASA tinggi, maka gambar akan terlihat grainy (berbentuk titik kecil namun banyak). Sedangkan penggunaan ISO tinggi akan menghasilkan noise (seperti bentuk cacing namun banyak). Sedikit aja udah geli apalagi banyak.

Ya udah, segini dulu deh… (ini juga udah lumayan pegel tangannya). Yang penting adalah kita mengenal kamera serta fungsi-fungsinya sebagai alat yang menyalurkan visi kita dalam menghasilkan sebuah gambar. Jadi, semua fungsi memiliki efek samping, tapi bukan berarti ini jelek. Namun, kita harus bisa menggunakannya dengan bijak. Pertanyaannya adalah, efek apa yang ingin dihasilkan supaya memperkuat pesan yang ingin disampaikan? Kalau mau lebih kuat lagi sampeiin aja sendiri…

(di ambil dari: halaman asli )

Sabtu, 21 Maret 2009


Film James Bond Terbaru : Quantum of Solace
Ditulis Pada : September 9th, 2008 , 1:17 am Kategori Film Author: Nias zalukhu

Film “James Bond” Terbaru “Quantum of Solace” akan segera beredar di seluruh dunia. Film terbaru James Bond 007 ini merupakan film ke 22 dari seluruh film James Bond yang pernah dirilis. Bagi yang sudah menonton Film James Bond sebelumnya yaitu Casino Royale pasti sudah mengetahui bahwa di film ke 21 James Bond tersebut, kisahnya kembali diulang lagi dari awal atau dengan kata lain bukan kelanjutan dari film James Bond ke 20 Die Another Day. Film James Bond sebelumnya Casino Royale menceritakan pertualangan pertama agen rahasia yang dikenal dengan nomor 007 itu. Nah bagi yang sudah menonton Casino Royal pada tahun 2006 yang lalu, pasti penasaran pada akhir cerita yang menggantung. Nah James Bond 007 “Quantum of Solace” ini merupakan lanjutan dari kisah Casino Royale. Sambil menunggu tanggal mainnya, ga ada salahnya kita menyimak resensi film terbaru James Bond 007 Quantum of Solace.

Film Casino Royale diceritakan bahwa James Bond dikhianati oleh rekannya Vesper dan film pun berakhir tanpa memberi jawaban teka-teki siapa sebenarnya pengkhianat dalam organisasi mata-mata MI6. Berikut resensi film James Bond terbaru Quantum of Solace yang merupakan lanjutan dari Casino Royale.

film james bond 007 terbaru

Setelah dikhianati, James Bond (Daniel Craig) pun merasa bahwa misi yang diembannya sudah melebihi dari apa yang harus dikerjakannya sebagai seorang mata-mata. Bahkan dia merasa bahwa masalah ini justru cenderung pada masalah urusan pribadi. Dengan dibantu oleh M (Judi Dench), James Bond menyelidiki lebih jauh siapa gerangan Mr. White (Jesper Christensen), yang sudah memaksa Vesper untuk melakukan misi berbahaya yang kemudian nantinya terbongkar bahwa di dalam tubuh organisasi MI6 sendiri terdapat pengkhianat.

Bond kemudian mendekati seorang wanita cantik bernama Camille (Olga Kurylenko) untuk membawanya kepada Dominique Greene (Mathieu Amalric) seorang pengusaha yang kaya namun kejam sekaligus merupakan pemimpin dari sebuah kelompok yang misterius.

James Bond kemudian mengetahui bahwa ternyata Greene bekerjasama dengan Jendral Medrano (Joaquin Cosio) untuk mengendalikan sumber energi dunia demi kepentingan pribadi mereka. Nah sembari menemukan sang pengkhianat, maka James Bond harus beraksi lebih cepat dari CIA dan MI6 untuk menghentikan teroris berbahaya tersebut.

Film ini merupakan film kedua Daniel Craig dalam memerankan tokoh mata-mata James Bond 007. Seperti biasanya film-film James Bond sebelumnya, film Quantum of Solace juga menampilkan gadis sexy yang sering disebut Bond’s Girl. Kali ini menampilkan Olga Kurylenko, seorang aktris Russia yang terakhir bermain dalam film HITMAN.

Kita tunggu apakah film terbaru James Bond 007 ini mampu sesukses film-film James Bond sebelumnya. Rencananya Film Terbaru James Bond 007 ini akan serentak dirilis di berbagai negara di seluruh dunia pada tanggal 7 November 2008.